Dipinang

Bismillah.

 

Ting!

 

“Notifikasi dari aplikasi sosial mediaku berbunyi.

 

Wah, notifikasi dari grup lama. Ada apa, nih? Tumben ramai lagi. Tengok dulu sebentar sebelum lanjut kerja, kataku dalam hati.

 

Nomor pengirimnya kenal, sayang nama pengirim dan isi chat dari nomor tersebut membuat kepalaku berputar.

 

 

 

 

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 

 

 

Perkenalkan saya Salma, kakaknya Hasna. Mau menyampaikan bahwa adik saya telah berpulang ke rahmatullah dua hari yang lalu. Apabila ada urusan atau hutang piutang yang belum terselesaikan, mohon wapri saya ke nomor ini. Terima kasih.

 

 

 

Wassalam.”

 

 

 

 

Seketika aku tertegun. Ada sesuatu dalam dada yang bergemuruh, mengundang kehangatan di kedua netra. Apa berita ini benar? Pekan lalu kami sempat saling bertegur sapa via video call. Kuperhatikan dia sehat dan baik saja kondisinya.

 

Hasna, wanita yang dikenal sangat perhatian  sekaligus dewasa di grup kegiatan kami. Dari dialah kami belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Yang paling kusuka serta kukagumi, ia sangat pandai membesarkan hati dan memotivasi jika salah satu dari kami sedang down, tertimpa musibah atau kesulitan. Betapa beruntungnya keluarga serta orang-orang  yang mengenalnya. 

 

Kami seumuran, hanya terpaut beberapa bulan. Bedanya ia sudah lebih memahami dan duluan mengamalkan sunnah dengan baik, sedangkan aku baru belajar mengenal Islam.

 

***

 

Dipinang

 

Pernah terlintaskah suatu saat nanti, kita kembali dipanggil Yang Kuasa dalam kondisi seperti apa? Bersama siapa?

 

Jujur, kita enggak tahu. Yang ngaku-ngaku bisa melihat masa depan saja enggak tahu. Yang pasti semua yang bernyawa akan bertemu, dipinang, kemudian merasakan mati. Ada beberapa ayat alquran yang membahas tentang kematian. Yang akan kutulis hanya tiga ayat saja, karena ayat-ayat tersebut secara pribadi menjadi semacam motivasi bahwa hidup itu….

 

Surat Ali Imran ayat 185

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.”

(QS. Ali Imran : 185)

 

 

Surat Ar Rahman ayat 26

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ

“Semua yang ada di bumi itu akan binasa.”

(QS. Ar Rahman : 26)

 

 

Surat Ar Rahman ayat 27

وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلالِ وَالإكْرَامِ

“Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.”

(QS. Ar Rahman : 27)

 

 

Bahwa setelah hidup pasti akan mati. Kita hidup di bumi hanya sementara. Semua yang ada di bumi akan binasa kecuali Allah.

 

 

Intinya….

 

Menurutku yang masih awam dan fakir ilmu ini, kita berada di bumi pasti atas kehendak Allah. Kita dihidupkan dan kelak dimatikan Allah. Tak dapat kita hindari, tapi bisa kita persiapkan.

 

Persiapannya bagaimana? 

 

Taubat, beramal saleh, jangan lupa doa.

 

Bagaimana caranya agar senantiasa beramal saleh dan doanya terijabah? 

 

Belajar, belajar dan terus belajar. Sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi. Menurutku itu satu-satunya cara agar memiliki amal saleh yang diterima Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Dari belajar jua kita akan paham, doa seperti apa yang diijabah Allah. 

 

Mungkin dalam prosesnya akan bertemu dengan kebosanan, jenuh, tidak juga paham, masih juga mengulang kesalahan, bertemu kegagalan, dan segala hal yang mampu menggoyahkan niat belajar kita. Bukan mungkin lagi, sih. Lebih tepatnya sudah pasti ada.

 

Nah, itulah fungsinya grup, belajar bersama-sama. Kita memiliki tujuan yang sama, mengapa tidak saling menyemangati dan berbagi ilmu yang bermanfaat?

 

Untuk yang tidak terlalu suka keramaian atau grup, pastikan memiliki kemauan yang kuat. Ini bekal paling utama. Saat ada kemauan, artinya ada ketertarikan. Maka buatlah strong why dan motivasi terdalam untuk mempelajari hal tersebut.

 

Wallahualam bissawab.

 

 

***

 

“Dipinang maut bisa kapan saja.” (W. Shresta)

 

Sumber :

https://umma.id/article/share/id/6/230386

Kematian yang Tidak Bisa Dihindari

 

 

 

Bintang

Bismillah. 

 

Jalan-jalan ke Ipusnas ketemu buku menarik. Dari judul sempat terlintas apa ini buku novelisasi film? Sempat di awal tahun 2000 ada film dengan judul yang sama di mana Dian Sastro dan Marcella Zalianty berperan di sini. Setelah baca sinopsisnya ternyata bukan. Judulnya saja yang sama. 😅

 

Makin penasaran karena penulisnya Kak Silvarani. Apalagi dengan tema putus cinta yang di angkat. Malah lebih gawat lagi, enggak jadi nikah. Menohok pisan! Putus cinta saja sedih, apalagi batal nikah. Oi, batal nikah!

 

Yang ada di bayangan saya : sudah survei lokasi impian, cari catering yang oke, pilah-pilih model pakaian raja ratu semalam, janjian sama KUA, dan lainnya. Sudah semakin yakin akan menjadi pendampingnya. Begitu pun dia yang sudah dibayangkan menjadi pendamping kita. Sebentar lagi sah menjadi pasangan suami istri. Eh, enggak jodoh. 

 

 

IMG-20200619-WA0004

Tampak depan buku ‘Bintang Jatuh’ (sumber : Ipusnas)

 

 

#5 – Bintang Jatuh

 

Judul : Bintang Jatuh

 

Penulis : Silvarani

 

Editor : Gita Savitri

 

Desain sampul : Suprianto

 

Setter : Nur Wulan Dari

 

E-ISBN : 978-602-06-1786-2

 

ISBN : 978-602-03-0968-2

 

Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama

 

Cetakan : 2014

 

Tebal buku : 166 halaman

 

 

IMG-20200619-WA0003

Tampak belakang buku ‘Bintang Jatuh’ (sumber : Ipusnas)

 

 

About The Book

 

 

Pipi kanan Bintang ditampar oleh Alena. Mereka pasangan kekasih yang sudah mantap melangkah ke jenjang pernikahan namun harus kandas di saat Bintang sedang membutuhkan dukungan.

 

Bintang sangat terpukul. Keluarga Bintang  mengingatkan tentang jauhnya perjalanan yang sudah dilewati oleh mereka, namun ia tetap bersikukuh—menghibur diri lebih tepatnya—bahwa perpisahan terjadi karena Alena tidak mau menunggu hingga orang tua Bintang sembuh.

 

Bintang yang juga seorang jurnalis pada hari yang sama mendapat tugas ke Jogja. Awalnya menolak, tapi dengan kondisi perpisahan tersebut, keluarga Bintang menyarankan untuk mengambil tugas ke kota tersebut. Mereka berharap bisa mengobati sedikit kesedihan dan menyemangati Bintang.

 

Dalam perjalanan Bintang berkenalan dengan Saya. Dia mengunjungi Jogja bersama Nely untuk menengok neneknya. Di Jogja pun mereka pergi mengelilingi kota bersama. Tentu saja tak berdua, ada Nely yang menemani. Awalnya Bintang ragu perjalanan akan menyenangkan karena pergi bertiga dan bersama perempuan. Nyatanya menyenangkan dan Bintang semakin mengagumi dua perempuan tersebut.

 

Pernah sama-sama mengalami putus cinta, sama-sama sudah sedemikian dekat dengan pernikahan, sama-sama terluka, maka Bintang dan Saya sering terlibat dalam pembicaraan serius. Selain serius, kadang absurd seperti berikut :

 

 

Setiap aku melucu, Saya selalu tertawa. Aku rindu membuat perempuan tertawa. Dulu perempuan itu Alena.

“Aku percaya… setan dan malaikat itu adalah dua wajah manusia.” Tiba-tiba Saya mengatakan hal yang aneh.

“Apa?”

“Iya. Contohnya kamu, Bin. Dalam waktu yang bersamaan, kamu bisa menghadapi Alena dengan wajah setanmu, tetapi menghadapiku dengan wajah malaikatmu. Aku tak kenal kamu secara mendalam, tapi pasti dulu Alena pernah berhadapan dengan wajah malaikatmu. Dan menikmatinya sampai batas yang ditentukan oleh Tuhan. ”

 

(‘Bintang Jatuh’ – halaman 122)

 

 

Setelah kembali ke Jakarta, Bintang dihadapkan pada realita baru. Sahabat dan keluarganya sempat cemas bahwa Bintang tak dapat menerima kenyataan. Tetapi semua terpatahkan karena setelah pulang dari Jogja, ia memiliki hal baru yang belum diketahui oleh mereka.

 

 

My Opinion

 

 

Kak Silvarani idenya keren! Baru di bab satu sudah di kasih ayat alquran (halaman 15). Di bab selanjutnya bahas cara tayamum dan salat. Belum lagi sejarah Islam masuk ke Indonesia. Bahasanya juga enak di baca. Chewy gitu, deh.

 

O iya, hati-hati dalam membaca, karena ada beberapa POV di sana. Walau yang dominan Bintang selaku lakon utama. Terbantu di judul tiap bab, kok. Jadi enggak akan kaget banget ada perpindahan POV.

 

Cerita yang disuguhkan sederhana, alurnya yang berbeda. Belum lagi wejangan dan informasi terselubung dalam buku ini. Bahasanya bukan menggurui, tapi mengena. Informasi mengenai Jogja juga membuat saya ingin sekali pergi mengunjungi kota tersebut. Ada jalan Malioboro, Keraton Jogja, Benteng Vredeburg, Masjid Kauman, dan tentu saja Stasiun Tugu. Belum lagi kuliner gudeg dan lele asap khas Jogja, ngiler dibuatnya. 🤤

 

Menurut saya, sih buku ini bisa membantu orang yang tadinya sedih karena putus cinta menjadi lebih lapang menerima kenyataan. Hal tersebut ada bab-bab terakhir buku. Saya yang enggak putus cinta saja ikut ‘tertampar’ setelah selesai membaca. Cerita romance sarat pesan religi yang sangat dalam.

 

Intinya putus cinta itu bisa dialami oleh siapa saja, sisa bagaimana kita menyikapinya. Kadang kita berubah dan lupa pada hal yang lebih penting dari pada menangisi perpisahan. Orang-orang yang paling menyadari perbedaan kita, ya orang di sekeliling kita. Mereka adalah keluarga, sahabat, rekan kantor, atau siapa pun yang sering berinteraksi dengan kita. Urusan kita bangkit kembali, berubah, menjadi pribadi yang lebih baik, semua kembali kepada kita sendiri. Ada kemauan tidak untuk berubah?

 

***

 

“Ya, Lex! Gue akan coba!” Aku akhirnya mengikuti keinginan Lexi.

“Coba apa?”

“Jadi Bintang seperti yang lo bilang itu.”

 

(‘Bintang Jatuh’ – halaman 121)

 

 

Pilih Lo, Deh!

Bismillah. 

 

Alhamdulillah, sudah masuk pertengahan Juni 2020. Bulan Syawal 1441 yang tinggal menghitung hari. Masih ada waktu untuk puasa Syawal, loh. Yang sudah, selamat. Tetap perbanyak amal-amal salehnya. 😊

 

Kali ini saya mau post sesuatu yang berbeda. Apakah itu? Jeng jeng jeng….

 

Saya mau berbagi resep, lebih tepatnya recook. Sadar diri belum jadi master chef, masih mbakter chef (Yang enggak ketawa saya maafkan.) 😅

 

Kenapa tiba-tiba berbagi resep? Saya ingat pesan dari seorang guru pada suatu kajian sebelum pandemi—yang lebih tepatnya tahun 2019 lalu—. Beliau bercerita tentang pondoknya. Yang sudah jago ilmu agamanya, yang sudah senior, harus mau mengabdi. Untuk akhwat, salah satu cara mengabdi dengan membuat dapur ngebul. Apa lagi kalau bukan untuk menyajikan menu istimewa bagi penghuni pondok. Intinya akhwat diharapkan (dan sebaiknya) bisa masak. Alasannya, sih enggak banyak dalil. Kebanyakan alasan logis dan masuk akal. Ditambah mungkin saya yang sudah berstatus istri dan ibu, makin masuklah itu wejangan. Minimal saya harus bisa masak air enggak gosong. Yes

 

Hasil belanja seseakhwat hari ini hanya dapat tempe, kacang panjang, bawang putih doang. Kehabisan, bu ibu. Meet up sama Mang Say(ur) kesiangan. Alhamdulillah enggak habis banget. Kasih pilihan ke suami, mau dimasak lodeh, tumis atau apa? Beliau pilih lodeh. 

 

Sebagai istri yang baik, saya ikuti maunya. Namun sebagai ibu yang baik, saya enggak mau ribet masaknya (Baik, kan? Enggak ninggalin anak lama-lama buat masak. Hehehe) 😅 

 

Mari jalan-jalan ke akun-akun mastah. Kepincut sama resep lodehnya Mbak Diah Didi. Pas, nih. Enggak pakai acara ulek bumbu, iris-iris bumbu klub gitu. Berikut resepnya. 

 

#1 – Lodeh Tempe Semangit dan Kacang Panjang Bumbu Iris

 

Bahan :

  • 10 lonjor kacang panjang (saya pakai 8 lonjor) potong-potong
  • 1 papan kecil tempe yang sudah semangit, potong kotak kecil (saya pakai tempe segar)
  • 2 lembar daun salam
  • 2 cm lengkuas (saya pakai lengkuas bubuk. ½ – 1 sendok teh) 
  • 1/2 sendok makan gula merah (saya pakai 1 kotak kecil, sekitar 8 gram. Setengah sendok makan lebih ½ gram) 
  • 1 sendok teh garam
  • ½ sendok teh kaldu sapi (saya pakai kaldu jamur) 
  • 1 sendok teh ebi, seduh air panas (optional, saya enggak pakai. Habis)
  • 1000 ml santan sedang, tidak terlalu kental (saya pakai 600 ml dan agak cair)
  • 6 butir bawang merah, iris tipis (saya pakai 5 butir) 
  • 3 siung bawang putih, iris tipis (saya pakai 2 siung) 
  • 10 buah cabai rawit merah, iris serong (saya pakai untuk hiasan saja) 

 

 

Cara membuat :

  1. Tumis bawang merah, bawang putih hingga harum dan matang
  2. Masukkan cabai, aduk rata hingga layu
  3. Masukkan santan, dan semua bumbu lain
  4. Didihkan
  5. Masukkan tempe 
  6. Masak hingga meresap
  7. Masukkan kacang panjang terakhir jika mau masih kres rasanya. Jika mau medok, boleh bareng tempenya
  8. Koreksi rasa
  9. Sajikan hangat

 

20200617_150217

Lodeh Tempe Kacang Panjang Bumbu Iris (recook by Ma Est)

 

Alhamdulillah, selesai masak. Terima kasih, Mbak Diah Didi atas resepnya. Doakan semoga suami saya suka. Enggak suami doang, ding. Semoga orang serumah pada suka. Amin.

 

Yuk, silakan yang mau recook. Enggak makan banyak waktu masak, bahan enggak sulit di dapat, tidak perlu alat khusus, so simple dan ramah budget. Buat saya, sih cocok. Rasanya pas. Kacang panjangnya masih kres (tapi matang, ya). Aromanya wangi, sedap banget. Tempenya juga enak. Hanya saja saya belum makan banyak ditemani nasi. Masih icip-icip. Takut malah keenakan dan ngabisin. 😁

 

Sekian berbagi resep dari saya. Sekarang mau cek jemuran pakaian dulu. Semoga sudah kering. Hari ini Tuan Sun shining so bright. 🙏

 

***

 

Sumber : 

http://www.diahdidi.com/2017/12/lodeh-bumbu-iris-tempe-semangit-dan.html?m=1

 

Jakarta, Surabaya, Ujung Pandang

Bismillah.

 

Yana, Kusuma dan Lilis disebut-sebut sebagai 3 Srikandi Indonesia. Mereka pemanah wakil Indonesia yang memenangkan medali perak di ajang bergengsi, Olimpiade Seoul. Medali tersebut menjadi medali pertama bagi ibu pertiwi setelah 36 tahun penantian. Ya, sejak pertama mengikuti olimpiade di tahun 1952, baru di tahun 1988 lagu kebangsaan Indonesia bergema mendampingi sang saka berkibar.

 

Pertama tahu 3 Srikandi tentu dari gembar gembor filmnya, dong. Pemain yang digaet enggak main-main. Para pemain yang sedang naik daun (Chelsea Islan, Tara Bastro, Bunga Citra Lestari, Reza Rahadian), pemain lawas yang ngangenin (Donny Damara dan Indra Birowo. Sungguh akting mereka mengobati rindu, karena saya nontonnya tahun 2020), pengisi soundtrack ada Bunga Citra Lestari dan Uthe (Ruth Sahanaya). Seleranya…. 😅

 

Balik lagi ke buku. Kita ketemu di sebuah toko buku besar yang sedang mengadakan obral, ada buku ini nyelip. Kover bukunya pemanah. Sempat berpikir bukan buku Indonesia. Eh, ternyata novelisasi film 3 Srikandi. Tentu langsung dicomot. Hampir enggak percaya buku ini masuk ke obralan. Dari sisi penulis mungkin sedih. Penulis buku apa pun loh, ya. Royalti dari harga normal saja enggak seberapa. Ini diobral. Aduh, saya mulai melantur. Tetapi saya doakan para penulis tetap semangat berkarya dan dilindungi dari pembajakan (dibajak lebih sedih soalnya. CMIIW).

 

 

20200611_102149

Tampak depan buku ‘3 Srikandi’ (sumber : dokumen pribadi)

 

 

#4 – 3 Srikandi

 

Judul : 3 Srikandi

 

Penulis : Silvarani

 

ISBN : 978-602-03-2692-4

 

Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama

 

Cetakan : 2016

 

Tebal buku : 280 halaman

 

20200611_102203

Tampak belakang buku ‘3 Srikandi’ (sumber : dokumen pribadi)

 

 

About The Book

 

 

Kisah di buka dengan kekecewaan Donald Pandiangan karena gagal berangkat ke Olimpiade Moskow. Yang membuatnya kian terluka, ia mengetahui pembatalan keberangkatan dari wartawan, bukan dari Perpani.

 

Setelah menghilang bertahun-tahun—juga berusaha melupakan cintanya pada dunia panahan—, tiba-tiba pihak Perpani menemuinya. Setelah menimbang-nimbang, Donald setuju menjadi pelatih di pelatnas Olimpiade Seoul.

 

Setelah dilakukan seleksi, terpilihlah Nurfitriyana  (Jakarta, perwakilan DKI Jakarta) , Kusumawardani (Ujung Pandang, perwakilan Sulawesi Selatan), dan Lilis Handayani (Surabaya, perwakilan Jawa Timur). Mereka bertiga akan menjalani Pelatnas Olimpiade di Sukabumi.

 

Ketiganya bersiap untuk menjalani Pelatnas. Kusuma tidak direstui ayahnya karena berharap ia menjadi PNS, tapi tetap memilih pergi. Yana juga tidak direstui ayahnya. Selain belum menyelesaikan skripsi, ayahnya yang pensiunan TNI setelah mengabdi untuk negara, mendapat kekecewaan. Hal tersebut ditumpahkan pada keluarganya. Berbeda dengan Lilis yang direstui oleh kedua orang tuanya, namun bermasalah pada perihal cinta. Ia sudah memiliki tambatan hati, tapi ibunya tetap berusaha menjodohkan dengan pengusaha kaya.

 

Tim putri dilatih oleh Donald Pandiangan. Dikenal sebagai sosok yang keras, disiplin dan galak. Mungkin bawaan karakter tanah kelahirannya, Medan. Hal tersebut dapat ditangkap dari percakapan berikut. 

 

“Enggak nyangka Donald Pandiangan jadi pelatih kita!” ujar Yana kepada Yani. Di samping mereka, Lilis memperhatikan.

 

“Dan beneran galak doi!” sambar Yani.

 

(‘3 Srikandi’ – halaman 85-86)

 

“Kamu mau ikut Abang turun atau tunggu di mobil?” tanya Donald seraya menarik rem tangan.

 

Yana memandang ke luar. “Yana turun aja, Bang. Yana mau lihat juga.”

 

“Mau lihat apa?” tanya Donald seraya turun dari mobil.

 

“Lihat Bang Pandi bayar telepon ke petugas Telkom. Apa cara ngomongnya teriak-teriak juga kayak waktu ngelatih panah?” ledek Yana yang hanya dibalas dengan senyum tanggung di bibir Donald.

 

(‘3 Srikandi’ – halaman 159)

 

Dengan segala perjuangan dan kisah dari setiap atlet,  semangat yang kadang naik turun, mereka tidak punya pilihan lain. Saling menyemangati dan fokus pada olimpiade menjadi tujuan mereka berada di Pelatnas.

 

Akhirnya hari yang dinanti tiba. Sekarang mereka sudah di Olympic Park, Seoul. Ada dua kejuaraan yang diikuti. Perorangan dan beregu. Di perorangan, Indonesia tidak berhasil menghasilkan medali. Lilis begitu terpukul karena menjadi yang pertama keluar. Disusul Kusuma, lalu Yana. Bagaimana dengan beregu?

 

Pada bagian terakhir, disisipkan cuplikan film 3 Srikandi. Beberapa foto tersebut diambil dari bagian pembuka film, saat karantina, hingga saat bertanding di Seoul.

 

 

My Opinion

 

 

Saya sangat setuju bahwa buku ini berkisah tentang impian, kerja keras, dan keyakinan. Seperti yang tertera di belakang buku. Benar-benar membangkitkan semangat dan motivasi. Buat yang lagi kurang fokus, sedang letih dalam mengejar impian, kerja keras yang sudah dilakukan belum jua membuahkan hasil, coba baca buku ini. Yakin akan tertular dan terbakar semangat.

 

Suka dengan cara penyajian yang dibubuhi majas dan diksi tapi enggak sampai mengundang bintang tujuh. Pas. Bahasanya pun mengalir, pembaca diajak larut dengan jalan cerita. Apalagi di bagian penentuan yang kemudian mengantar mereka meraih medali pertama untuk Indonesia di akhir cerita. Semua kerja keras terbayar. Tiba-tiba pandangan saya blur karena ada yang berembun. Benar-benar energi kemenangan ikut menjalar.

 

Setelah membaca, kemungkinan besar akan penasaran dengan filmnya. Next, saya akan ulas 3 Srikandi yang versi film. Insya allah.

 

 

***

 

 

Yang dikatakan Ibu memang benar. Di sekolah dulu, Lilis pernah mendengar dari guru agamanya bahwa ada hadits yang mengatakan bahwa panahan adalah olahraga yang disunahkan Nabi Muhammad SAW. Maka mulai hari itulah, Lilis mengubah jalan hidupnya dari seorang atlet pencak silat menjadi atlet panahan.

 

Kini Ibu memang telah pergi untuk selamanya. Namun Lilis tak akan pernah melupakan semua ilmu dan nasihat yang telah diberikan almarhumah untuknya.

 

Ia akan membuat Ibunya bangga.

 

(‘3 Srikandi’ – halaman 190)

 

 

Agar Suami Tak Mendua

Bismillah.

Cerita di balik perburuan buku yang akan saya ulas berikut sangat unik. Awalnya tahu dari browsing, buku tentang apakah ini? Judulnya cukup bikin dag dig dug ser. Agar suami tak mendua. Untuk yang sudah bersuami, apalagi yang sudah cukup lama berkeluarga, kesan yang didapat kalau baca judulnya sepintas bisa membuat pikiran kemana-mana. Mengarungi samudra pernikahan saja sudah bikin semriwing, apalagi ini supaya Sang Nahkoda tidak mendua. Cari di aplikasi toko buku dan baca online, ketemu buku yang dimaksud. Mereka suka kasih spoiler, kan? Baca dulu, ah. Wow, seram seram sedap. Padahal baru baca sampai bagian awal prolog.

 

Setelah membaca spoiler, malah membuat saya semakin berminat sama buku ini. Bukan hanya untuk dibaca, tapi masuk koleksi di perpustakaan kecil. Kesimpulan sementara (spoiler, kan hanya sekian halaman dari total isi buku. Jadi kesimpulan sementara, tho) tentang buku karya Kak Muyassaroh ini memberikan kiat-kiat agar wanita lebih memahami kewajiban sebagai istri. Jadi saat saya lupa akan kewajiban, lelah, bosan, atau lagi banyak minta hak daripada menunaikan kewajiban, bisa ambil buku ini dari rak untuk intropeksi diri.

 

Pergilah ke toko buku (zaman masih Covid-19 masih belum heboh di Indonesia, yah? Di negara lain, mah sudah. Jadi jeda sejak saya beli, baru mulai menyentuh, sampai akhirnya Mei lalu alhamdulillah baca sampai selesai bisa sampai tiga bulan). Di toko buku langganan kosong, dong. Adanya yang 99 Ways to be A Great Muslimah (eh, kenapa jadi promosi buku Kak Muyass? 🤭  ). Wong buku yang saya cari lebih lawas, wajarlah agak sulit didapat. Hahaha…

 

Masih penasaran, cari di toko buku yang lebih besar. Oh oh, tidak berjodoh juga. Kehabisan, gaes. Hm, mungkin jodohnya sama toko buku online. Masih optimis walau sudah mulai luntur. Loh, loh….. Habis juga. Tos, weh…. Pasrah.

 

Ternyata Allah menjodohkan saya dengan buku ini dari penulisnya langsung. Dari suatu hal yang tidak sengaja. Tidak pakai perantara. Di situ saya merasa terharu dan takjub dengan skenario Allah. (cirambay mode on). Masya allah, alhamdulillah.

 

 

20200609_142307

Tampak depan buku ‘Agar Suami Tidak Mendua’ (sumber : dokumen pribadi)

 

 

#3 – Agar Suami Tidak Mendua

 

Judul : Agar Suami Tidak Mendua

 

Penulis : Muyassaroh

 

Target pembaca : 15+

 

Jenis : motivasi Islam

 

Penerbit : Quanta

 

Cetakan : 2019

 

Tebal buku : xviii + 385 halaman

 

ISBN : 978-602-04-8837-0

 

ISBN Digital : 978-602-04-8838-7

 

 

20200609_142342

Tampak belakang buku ‘Agar Suami Tidak Mendua’ (sumber : dokumen pribadi)

 

 

About The Book

 

 

Buku ini terbagi dalam sebelas bab. Setiap bab memiliki sub bab yang diawali oleh kisah yang relate dengan pembahasan yang diulas setelah kisah selesai.

 

Prolog di buka dengan kisah yang langsung membuat kepala tersentak. Seorang suami yang menginformasikan pada istrinya bahwa ia berniat untuk menikah lagi. Awalnya Sang Istri menganggap itu hanya candaan saja. Ternyata, apa yang disampaikan oleh suaminya tidak main-main.

 

Ada beberapa bagian yang sangat kontras dengan kondisi sekarang, sekaligus jadi catatan. Saya ambil contoh di bab 4, Pandai Menjaga Diri judul sub babnya.

 

Pada zaman sekarang, sudah bukan hal aneh mempersilakan tamu masuk ketika suami pergi. Kita menganggap itu sebagai penghormatan kepada tamu. Toh tidak ada yang kita lakukan selain menyuruhnya duduk dan menghidangkan secangkir teh.

 

Kadang kita tidak pernah memperhitungkan mudharat yang lebih besar setelahnya. Sebab suami tak berpesan atau tidak juga melarang kita menemui tamu dan mempersilakan mereka masuk.

 

(‘Agar Suami Tidak Mendua’, halaman 116)

 

Karena sudah biasa, dan akan dianggap tidak sopan ada tamu tapi tidak dipersilakan masuk, maka kita diharapkan lebih menjaga diri. Dalam artian, saat suami pergi, sebaiknya tamu tidak masuk ke dalam rumah. Lebih baik menghindari fitnah, bukan?

 

Contoh lain saya ambil dari bab 9, sub babnya berjudul Usaha Tidak Akan Mengkhianati Hasil.

 

Jangan takut menanam kebaikan. Meski suami tidak mengimbangi cinta kita, meski suami terkadang banyak kelalaian di sana-sini, tapi kita sebagai istri harus konsisten. Kita harus menanam dan yakin suatu saat kita akan memperoleh kebahagiaan seperti seorang petani menikmati hasil panennya. Percayalah, usaha seseorang tidak akan mengkhianati hasil.

 

(‘Agar Suami Tidak Mendua’, halaman 293)

 

Buku di tutup dengan epilog yang mengingatkan kita tentang tujuan menikah, yaitu menggapai keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah.

 

 

My Opinion

 

Perkiraan saya tidak meleset. Buku ini berisi kewajiban istri, perannya dalam keluarga serta bagaimana menjadi partner hidup suami, kini hingga nanti. Buat yang bercita-cita jadi pasangan sehidup sesurga, saya rekomendasikan buku cantik ini.

 

Adanya penggalan ayat alquran, hadis, atau/dan quotes di setiap akhir sub bab membuat pembaca dipaksa merenung (ini juga yang buat saya lama menyelesaikannya). Hampir setiap selesai satu sub bab, intropeksi diri. Merenung dan membandingkan dengan kisah saya sendiri. Jangan-jangan saya pernah secara tidak langsung menzalimi diri atau suami, bahkan anak maupun keluarga? Tidak menutup kemungkinan apa yang dikisahkan mirip dengan pengalaman teman-teman. Kalau saya, sih ada yang mirip.

 

Menikah memang butuh komitmen. Cinta memang perlu, dirawatnya yang bisa berbeda. Antara satu pasangan dan pasangan lain, punya cara dan kisah sendiri-sendiri dalam menghangatkannya. Buku ini mengingatkan para wanita, utamanya di zaman sekarang. Bahwa setinggi apa pun jabatan di luar sana, ada keluarga yang butuh peranmu. Jangan lupakan fitrah.

 

 

***

 

20200609_150805

Goresan tangan dari penulis. Motivasi sekaligus harapan untuk saya, juga pembaca buku ‘Agar Suami Tidak Mendua’

Biru

Judulnya sederhana banget. Hehehe. Soalnya sudah malam begini ananda cikal susah tidur karena lagi kurang sehat, disambi menulis biar emak rada produktif. Mohon doa untuk kesehatan ananda dan kami sekeluarga. Semoga Allah membalas dengan yang lebih baik, amin. *apa hubungannya? Intinya belum kepikir judul yang penuh diksi atau bermakna. Ini juga bermakna buat saya. Wis, ra sah takon meneh.

 

Biru di sini jadi tema tantangan puisi di komunitas. Kata tersebut membawaku ke masa menjadi istri (sudah menikah), belum dikaruniai anak. Lah gimana jawabnya. Kan itu hak Allah. Mungkin kita terlalu santuy, jadi senyum adalah jawaban paling pas menurut kami.

 

Pas saya dulu sih, yang senang nanya udah isi belum atau kalian bisa enggak dan sejenisnya itu banyaknya kaum hawa. Kebanyakan senior. Beberapa dari mereka dengan terbuka berbagi tips, sebagian mendoakan untuk kehadiran buah hati melengkapi kebahagiaan, tak sedikit yang membandingkan dengan dirinya. Umur segitu Mbak sudah anak dua, loh. Atau Teteh seumur kamu lagi hamil si fulanah. Apa kami dinilai sebagai pasangan yang enggak pengen punya anak?

 

Awal pernikahan masih pakai ilmu gimana Allah. Ternyata, enggak begitu cara kerja Allah. Ikhtiarnya harus maksimal dulu. Doa juga kencengin. Sampai kalian jenuh, pegal, bosan, mood swing, bahkan sampai di titik usaha jadi rutinitas enggak mikir akhirnya.

 

Setelah diskusi panjang akhirnya ganti pakai ilmu ikhtiar maksimal penuh bahagia, hasil gimana Allah. Kami berdua meluangkan  mengalokasikan waktu berbahagia lebih banyak. Enggak selalu berdua, bisa ramai-ramai bersama keluarga atau teman-teman. Buat kami, salah satu cara bahagia itu berbagi. Enggak disimpan sendiri. Segitu rahasia disimpan sendiri Allah juga tahu. #eh

 

Hingga suatu waktu pernah sampai posisi sedih, kenapa belum dipercaya. Sayangnya yang bikin down justru sesama wanita. Hanya bisa istigfar, kenapa saya seperti lupa sama yang punya segala kuasa. Akhirnya kami saling menguatkan, sudah tidak memikirkan akan dapat amanah atau tidak.

 

Jawaban dari semua gundah gulana tersebut ada di puisi berikut.

 

DUA SURIH

W. Shresta

Seorang ratu berjalan anggun berpikir naif
Melihat sebelah mata pada seorang wanita daif

Ingin hati sampaikan rasa
Apa daya diri tak kuasa
Air mata senantiasa berlinang
Surut setelah dua surih datang

Senyum mengembang walau masih taksa
Hati berdendang, tubuh pun berdansa

Kian hari makin jelas jantung berdetak
Beban bertambah membuat tersentak
Doa Si Fakir tak terelak
“Selamat datang, Nak.”

Bandung, 9 Mei 2020

 

Alhamdulillah, keluar jadi terbaik ketiga. 🙂

 

Lepas dari pencapaian tersebut, ada yang mau disampaikan ke ananda-ananda emak nan saleh sehat berakhlak mulia, Emak sayang kalian. Tumbuhlah jadi pria saleh kuat cerdas yang taat dan hanya menyembah Allah ta’ala. Semoga Allah selalu memberkahi kalian, memberkahi keluarga kita, dan kita semua jadi hamba Allah yang dirindu surga, amin amin allohumma amin.

 

 

Iqro

“Bacalah!”

 

Setiap penulis bisa dipastikan ia adalah pembaca. Tapi belum tentu yang hobi baca bisa menulis.

 

Pembahasan ini yang membawa saya ke tulisan sebelumnya. Tentang saya menulis mengalir begitu saja. Mengapa bisa begitu? Sekarang saya agak mulai tercerahkan jawabannya. Karena saya dulu senang membaca. Hampir semua genre saya baca. Apalagi bacaan yang menarik, bisa bikin saya enggak tidur hanya untuk menamatkan cerita. Pernah juga enggak bisa tidur baca buku pelajaran, karena mau ujian. 😀

 

Entah sejak kapan saya lupa cara menikmati buku. Membaca, merenungi, menggarisbawahi kata atau kalimat yang bermakna,  memperluas ‘kacamata’, sungguh saya lupa.

 

Akhirnya bom meledak. Boom!

 

Jauh dalam diri saya, merindukan saat kebersamaan bersama buku. Memberi sinyal untuk didekati. Mencari serpihan cinta yang pernah menggebu antara kami. Tertatih banget buat mulai, tapi worth it. 

 

Setelah dijalani beberapa waktu kebelakang, rasa yang tumbuh berbeda. Bukan negatif, tapi lebih positif. Banyak hal yang ternyata tidak hanya sekedar membaca.

 

Saat masih berstatus pelajar, mau enggak mau kita tiap hari dipaksa belajar. Cara belajar mandiri yang paling efektif tentu saja membaca. Setelah membaca, ditulis. Kalau pun belajar via nonton video kan harus dibaca juga materi di layar. Kegiatan saat libur diisi dengan membaca buku cerita atau menonton. Tak jarang film asing yang ada terjemahan dimana itu harus dibaca supaya paham jalan cerita. Enggak jauh dari kegiatan baca, bukan?

 

Sekarang, membaca adalah hal yang perlu diselipkan dalam kegiatan harian. Kegiatan yang tidak dapat diprediksi lebih banyak. Tentu saja harus tetap dijalani dengan bahagia. Maka sekarang status kegiatan membaca buatku jadi healing.

 

Selain itu, membaca di umurku sekarang malah berujung kesedihan. ‘Kok baru tahu, ya?’ Atau ‘Masyaallah banget isi bukunya’ . Kagum sama perkembangan dunia literasi. Salut sama orang-orang yang bertahan dalam dunia yang sangat mudah dibajak. Yes! Ada alasan mengapa saya berpendapat seperti ini, dan ini pendapat pribadi dari kacamata awam. Fotokopian banyak, scanner makin canggih, sosial media makin banyak. Penulis bikin bukunya butuh riset yang enggak lama, belum lagi menyusun kata hingga diksi agar menarik, gedor penerbit hingga bisa cetak, mikir keras hasil menulis bisa menghidupi keluarga, itu long journey dan sangat butuh mental baja.  Jadi gemas sama yang suka nyebar buku atau e-book yang enggak permisi sama yang punya. Hohoho, satu sisi menunjukkan hal positif (yang hobi baca banyak), sisi lain negatif (caranya salah). Saya yakin pembaca blog saya semua adalah orang-orang nan saleh salehah berpribadi mulia berotak cerdas berhati putih.

 

Maafkan atas curahan hati yang tiba-tiba nongol. Balik lagi sama judul, Iqro. Pokoknya enggak rugi jadi pribadi yang suka baca. Mumpung akhir pekan dan kondisi PSBB, mau lanjut baca lagi. Jadi ingat belum review buku yang baru beres kubaca. Insyaallah next post. 

Dulu, setelah selesai membaca suatu bacaan, saya menilai diri kian pandai. Sekarang, setelah selesai membaca suatu bacaan, saya menilai akan kebodohan diri. (W. Shresta)

Baju Hijau Pilihan-Mu

بسم الله الرحمن الرحيم

 

Alhamdulillah, kesampaian juga mengisi blog. Setelah 2 bulan vakum. Sejak akhir Januari ada yang lebih diprioritaskan di dunia nyata, hampir semua kegiatan menulisku macet. Tetap memaksakan, hasilnya ambyar (menurutku). Akhir Maret mulai fokus lagi, feel mulai ‘dapat’ (sudahlah masih belajar, mood naik turun, ilmunya masih cetek, latihan kurang. Sungguh bukan contoh yang baik.)

 

Kali ini aku akan berbagi tentang tulisanku yang sudah dipublikasikan di sosial media. Opini pribadi tentang pandemi yang sedang dihadapi dunia dari seorang fakir ilmu, istri, ibu,  anak, member bumi yang tinggal di Indonesia. Setuju atau tidak, sependapat atau tidak, benar atau tidak, mohon dimaafkan.

 

Silakan tinggalkan jejak di kolom komentar untuk mengoreksi tulisanku yang sekiranya tidak benar, penempatan kurang tepat, diksi, dan sejenisnya. Kita sama-sama belajar jadi lebih baik. Kita bahu membahu menghadapi pandemi. Harapannya hanya satu, mengakhiri pandemi dengan indah.

 

***

 

Beautiful Ending

 

BEAUTIFUL ENDING

Karya : W. Shresta

 

Perih

Rabu memutih

Terhujam serpihan tajam

Hanya diri yang rasa

 

Mikro

Kasat mata

Menolak empat puluh

Korban keegoisan tumpah ruah

 

Masa

Netra berderai

Pengorbanan jiwa raga

Dilema barisan penghujung memuncak

 

Fokus

Berjuang bersama

Lepas segala selisih

Semua terhubung dalam satu

 

Senyum

Melukis hikmah

Baju hijau memudar

Sembilan menutup pandemi dunia

 

Bandung, 10 April 2020

 

 

#MaEstBelajar #IstriPembelajar #IbuPembelajar #baitijannati #Tulisinaja #puisi #pandemi #eventcorona #fighttogether #maesttrackrecord

 

***

 

Real Name? 

 

Nama populer : Lockdown

Nama samaran : laukdaun, slowdown, download

Nama asli : ?

 

Hasil jalan-jalan seseakun di sosmed dan dumay, dapat nih ‘nama asli’ nya. Disarikan, copas ntar kepanjangan enggak dibaca.

 

***

 

Angka 40 ialah metode dari ilmuwan pengobatan Persia, Ibnu Sina (980-1037) untuk mengisolasi orang-orang selama 40 hari karena menurutnya, wabah penyakit disebabkan sebaran mikroorganisme.

 

Metode Ibnu Sina, disebut Al-Arba’iniya (40), kemudian didengar oleh orang-orang Venesia dan dicontoh. Sampai sekarang kita mengenal istilah karantina untuk mengurangi wabah penyakit di dunia.

 

Karantina, bahasa Italia, ‘quaratena’, artinya 40 bagi orang Venesia, adalah asal kata quarantine.

 

#Quran 5:32

“Barangsiapa memelihara kehidupan satu manusia seolah ia telah memelihara kehidupan seluruh manusia.”

 

(terjemahan bebasnya begitu. Browsing juga silakan. Nambahin juga boleh.)

 

***

 

Masyaallah.

Sudah terbukti metode Al-arba’iniya ini berhasil bukan?

Bisa dipertimbangkan untuk diterapkan dan di taati.

 

*mau colek teman yang kayaknya berkepentingan enggak jadi. Biar baca sendiri. Kali dapat hidayah.

 

Diharapkan segala lini, pemimpin hingga rakyat, atas sampai bawah, bekerja sama. Jadi satu tim. Layaknya pendukung sepak bola Perxxx, Perxxxx, Perxxxx, dan Per Per Per lainnya lagi mendukung tim Indonesia main gitu, loh. Enggak bawa-bawa tim favorit.

 

Kok masih ada yang ngeyel?

Kok cuma bisa menghimbau?

Kok enggak dikasih win win solution?

Kok dolar naik terus?

Kok harga-harga enggak stabil?

Kok mau masuk Ramadhan emak ngeri ngeri sedap?

Kok saya nanya terus?

 

Iya, ya. Kenapa?

 

#MaEstBelajar #IstriPembelajar #IbuPembelajar #baitijannati #Tulisinaja #CeritaMaEst #lockdown #Quran #ibnsinamethod #maesttrackrecord

 

***

 

My Tentative Conclusion 

 

In this pandemic situation, with invisible enemy, I feel like I’m living in a movie.

After ± 3 months pandemic in Indonesia, ± 6 months around the world, i have tentative conclusion.

Everybody will get this virus. No matter how old you are.

If you have good immunity, you will survive.

If you have good immunity and an angel heart, not only you will survive, everybody will survive.

We only have a little time in the world. Make sure your life is meaningful.

I don’t know what will happen tomorrow. Let’s fight together to make a beautiful ending.

Happy Jum`at Mubarak everybody. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

#MaEstBelajar #IstriPembelajar #IbuPembelajar #baitijannati #Tulisinaja #myopinion #pandemic #jumatmubarak #pleaseforgiveme #Allah #fighttogether #maesttrackrecord

 

***

والله أعلم

 

Kembang Mangkunegaran

Berawal dari kepo. Heboh di media saat beliau tutup usia (meninggal dunia 10 November 2015 di Bandung), bukunya juga ikut laris manis. Disuruh baca sama ibu pasca beberapa pekan beliau meninggal dunia. Maaf, enggak tuntas.

 

Beberapa hari lalu, ingat buku ini setelah baca suatu artikel. Pengen nuntasin, deh. Sekaligus lagi bete sama komentar di artikel tersebut yang mengidentikkan putri keraton itu lemah, pelan, lamban, dan sejenisnya. Sudah berkali-kali nemu kayak gini. Baik artikel, status, cerita, dan lain-lain. Mungkin mirip sama kondisi orang yang lagi fokus mengerjakan sesuatu, enggak mau/bisa diganggu, disebut lagi autis. Halo, tahu pengidap autis beneran itu seperti apa? Berbeda, loh. Hati-hati, jangan sampai salah paham.

 

Sedikit curcol. Putri Keraton yang sempat saya kenal rata-rata aslinya rapi, rajin, gesit, tangkas, dan kreatif. Beberapa keras kepala, ya karena mereka cerdas. Tahu apa yang mereka mau. Semua itu wajib dibalut keanggunan tutur dan sikap. Bisa dibayangkan sulitnya jadi putri? Mungkin kayak lagi makan makanan pedas banget yang sudah enggak nahan, tapi enggak boleh nunjukin ekspresi kepedesan. Harus tetap senyum, sorot mata teduh, berperilaku seolah biasa saja, tapi bukan ekspresi datar.  Atau bagai pesenam dan tentara. Latihan mereka sama-sama keras. Bedanya, pesenam harus tetap berekspresi “indah”. By the way, semua itu penggambaran versi saya. Betapa dalam kesakitan pun harus tetap anggun.

 

Balik lagi sama putri keraton. Apa mungkin karena saking pandainya dan anggunnya para putri menyembunyikan kekuatannya, jadi muncul tanggapan negatif (buat saya jadi negatif. Lah wong mandiri tangkas cerdas gitu disamakan dengan lamban. CMIIW)? Jangan-jangan yang dilihat penari? Tapi menari juga ada satu waktu lambat, satu waktu cepat. Ada satu waktu gemulai, satu waktu lincah. Sungguh saya enggak paham kenapa sering sekali lamban disamakan dengan gerakan putri keraton.

 

Yang komentar mungkin belum pernah ketemu putri keraton atau kerajaan yang asli. Misal sudah ketemu, pernah berinteraksi lama? Tahu luar dalam kehidupan mereka? Coba baca buku ini. Sebelum baca, saya sarankan buka hati dan pikiran dulu. Biar bisa sedikit menjawab “Bagaimana, sih kehidupan seorang putri?”

 

20200111_091639

Tampak depan buku ‘Gusti Noeroel, Streven Naar Geluk (Mengejar Kebahagiaan)’ (sumber : dokumen pribadi)

 

#2 – Gusti Noeroel, Streven Naar Geluk (Mengejar Kebahagiaan) 

Judul : Gusti Noeroel, Streven Naar Geluk (Mengejar Kebahagiaan)

Penulis : Ully Hermono

Perancang sampul : A. Novi Rahmawanta

Sumber ilustrasi foto cover dan isi : Dokumen Keluarga

Penerbit : PT. Kompas Media Nusantara

Cetakan : 2014

Tebal buku : xii + 284 halaman

 

20200111_091658

Tampak belakang buku ‘Gusti Noeroel, Streven Naar Geluk (Mengejar Kebahagiaan)’ (sumber : dokumen pribadi)

 

About The Book

 

Buku ini berkisah tentang Gusti Raden Ajeng Siti Noeroel Kamaril Ngasarati Koesoemawardhani (Gusti Noeroel). Pada awal buku kita akan disajikan kondisi masa kini dari beliau, tahun 2014. Kondisinya yang sakit, terbaring di atas tempat tidur. 

 

Pada bagian dua, berkisah tentang Romo dan Ibu (orang tua Gusti Noeroel), K.G.P.A.A. Mangkoenagoro VII dan G.K.R. Timoer Mursudariyah. Bab tiga dan selanjutnya berkisah tentang Gusti Noeroel kecil hingga senja. 

 

Buat yang suka kebudayaan dan ingin belajar budaya Jawa, boleh belajar dari buku ini.  Nilai-nilai budaya Jawa dan penggambarannya mudah dipahami. Alurnya mengalir, tapi tidak menggurui. Seperti upacara adat tedhak siten, pemilihan inyo, cara menggunakan jarik (kain batik), cara merawat dan mengatur rambut, dan sebagainya. Secara tidak langsung menggiring pembaca belajar sejarah Indonesia, seakan berada pada masa tersebut. Dilebur dengan suka duka kehidupan putri keraton, membuat pembaca ingin terus membaca tanpa jeda.

 

Perlu diketahui, Gusti Noeroel menikah setelah memasuki usia kepala tiga. Padahal, kecantikannya konon memikat banyak pria dari segala kalangan. Dari kalangan putri Mangkunegaran sendiri mengakui bahwa beliau paling cantik. Itulah mengapa beliau menjadi kembang Mangkunegaran. Tapi karena prinsipnya yang tak mau dimadu (dan pada akhirnya memang tidak dimadu), maka beliau disebut sebagai pahlawan anti poligami.

 

Menjadi istri Sultan? Dijadikan permaisuri? Betapa tinggi dan beratnya kedudukan itu. Wanita mana pun pasti mengharapkan dan mengidamkannya. Tetapi aku ingat kembali, terbayang wajah ibu yang selalu tampak berduka. Aku ingat ibuku dan harapannya padaku, agar aku jangan sampai dimadu. (Gusti Noeroel, Streven Naar Geluk (Mengejar Kebahagiaan) – halaman 157)

 

Dua bab terakhir, berisi tentang sejarah kerajaan Mangkunegaran dan kesan dari orang-orang terdekat Gusti Noeroel. Baik itu sahabat, anak, cucu, atau pun kerabat.

 

My Opinion

 

Ternyata beliau punya hobi menulis, puisi, filateli, dan berfoto. Selain dari menari, berkuda, dan kegiatan olahraga lain. Beliau sangat mencintai, melestarikan, dan menghargai karya seni budaya. Senang dengan perkembangan mode, menikmati berbagai budaya (baik budaya luar maupun asli Indonesia). Menyukai musik Barat sekaligus gamelan berikut tarian klasik. Kita ternyata banyak kemiripan, loh Eyang (#eh 🤭 ).

 

Kehidupan sebagai ibu dari tujuh putra putri, istri tentara dan rektor, putri kerajaan yang berpikir modern, sejarah dan kehidupan kerajaan, serta perjuangan menemukan cinta sejati sangat kental tersaji di sini. Saya jamin, membawa pembaca dari sudut pandang berbeda. Apalagi dilengkapi foto, maka akan makin terhanyut dalam menikmati buku.

 

Tak jauh berbeda dengan kehidupan kerajaan yang lain, maka saya menarik benang merah. A-tur-an. Sangat banyak peraturan yang tidak bisa diganggu gugat daripada yang fleksibel. Kehidupan yang diidamkan orang, tapi pada saat di posisi menjalani kehidupan tersebut, tidak seindah bayangan. Tapi karena ada aturanlah yang membedakan kehidupan seseorang dengan yang lain.

 

Dari sisi wanita, saya justru paling tersentuh saat Gusti Noeroel mengisahkan segala hal yang berhubungan dengan ibunya, G.K.R. Timoer Mursudarijah. Entah mengapa, saya seakan ikut merasakan saat ibunya sedih, bahagia, cemas. Mungkin karena hubungan mereka sangat dekat, hingga cerita di bagian ini sampai ke hati. Itu menjadi bagian yang paling sukses membuat saya menitikkan air mata selain kisah kesetiaan dalam kehidupan suami istri Gusti Noeroel dan R.M. Soerjosoejarso Soerjosoerarso. 

 

Selesai membaca, saya semakin yakin. Putri Keraton justru sosok wanita sigap, berani dan cerdas. Mandiri, juga lembut. Kuat, sekaligus anggun. Memegang teguh nilai-nilai budaya serta berkharisma. Semoga saya pun mampu menjadi wanita mulia yang bahagia nan membahagiakan.

 

***

 

Perbuatan yang bersih

Dari jiwa yang bersih

Pandangan muka pada wajah yang manis

Kesombongan lelaki dan kecintaannya berlutut

Kemana kelembutan matamu memandang,

Kelembutan adalah kekuatan

Bagi mereka yang lemah

Seperti tanda kebesaran dan senjatanya

Bungaku, yang bisa mematahkan nafas,

Bergetar dan tunduk-dan aku (dia) terselamatkan.

(Penggalan puisi karya Gusti Noeroel yang telah diterjemahkan bebas. Dari buku ‘Gusti Noeroel, Streven Naar Geluk (Mengejar Kebahagiaan)’ – halaman 99)

Lam (2)

Matan Al-Jazariyah

Bab Lam (6 Bait)

 

 

Bait 45

 

وَحَرْفَ الاسْتِعْلَا ءِ فَخِّمْ وَاخْصُصَا لاِ طْبَا قَ أَ قْوَى نَحْوُ* قَالَوَ الْعَصَا

 

 

 * = نَحْوَ

 

 

Terjemahan Bait 45 :

 

وَحَرْفَ الاسْتِعْلَا ءِ فَخِّمْ وَاخْصُصَا

 

Dan huruf isti’la itu tafkhimkanlah terkhusus

 

 

لاِ طْبَا قَ أَ قْوَى نَحْوُ* قَالَ وَالْعَصَا

 

Huruf ithbaqnya lebih kuat, contoh pada قَالَ dan الْعَصَا

 

 

***